SEPI
Sepi itu menabur benih-benihnya, diterbangkan angin melintasi dinding-dinding rapuh nan gelap, dan tiba di sebuah lorong-lorong panjang dimana diatasnya menetes air-air misterius. setelah itu tak terlihat apa-apa, hanya dingin, kosong, dan hampa. disinilah benih-benih sepi itu ditaburkan. supaya ketika benih ini tumbuh, akan sulit seseorang untuk merusaknya, sehingga rasa sepi akan selalu mengembang, terus menjepit hati yang kosong. melukai perasaan yang sakit.
Sepi adalah rumah kosong yang terlihat indah untuk dihuni bagi orang-orang yang merasa bahwa semua hal yang tidak baik diciptakan khusus untuk dia. sepi duduk di balkon-balkon kosong, terlelap di kamar-kamar sempit minim oksigen, sehingga seseorang akan merasa sesak saat memasukinya. ketika seseorang terjebak disana, sepi menjadi selimut yang mengikat.
Ketika sepi menjadi lumpur hidup, orang-orang pesimis memilih ditelan hidup-hidup dengan wajah tersenyum. karena merasa tak ada pilihan lain selain memilih menempatkan diri diantara gubuk-gubuk sepi yang ironis. orang-orang putus asa lebih miris lagi, bagi mereka sepi adalah kekasihnya yang diciptakan oleh sunyi didatangkan dari surga untuk menghibur hati mereka yang lusuh.
Sepi memakan mereka hidup-hidup, mengubur mereka tanpa suara, lambat laun seseorang akan terbiasa dengannya, lalu mencintainya. mereka yang mencintai sepi, membiarkan sepi selalu kekal dihatinya adalah mereka yang tuli akan hidayah, bisu akan syafaat, dan buta akan cahaya Ilahi.
Sepi menjadi indah jika berjalan di jalur rel yang semestinya, sepi menjadi pengingat, sepi menjadi spion, sepi menjadi semangat menyongsong masa depan.
Sepi yang wajar mengajarkan kita bersyukur, bahwa Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan ( Nikmat apalagi yang akan kamu dustakan )
Sepi yang indah mendekatkan kita kepada Dzat penguasa waktu.
Sudah siapkah kita menghadapi suatu saat dimana hanya sepi dan gelap yang menemani?
Irwan Syahroni
Purwakarta, 18 April 2018